Tampilkan postingan dengan label tutorial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tutorial. Tampilkan semua postingan

Menerbitkan Komik Sendiri atau Lewat Penerbit? | Oleh Sweta kartika

Menerbitkan Komik Sendiri atau Lewat Penerbit? | Oleh Sweta kartika

Di Copy dari catatan facebook sweta kartika (komikus Nusantaranger)



Ketika kecil, saya bercita-cita menerbitkan komik saya sendiri ke penerbit komik. Saat itu saya berharap komik saya bisa dibaca banyak orang dan saya senang karena bisa menyenangkan banyak orang. Namun, jalan untuk menuju terwujudnya cita-cita ini tidaklah semudah memimpikannya. Sebagai komikus pemula, saya harus berhadapan dengan proses editorial, lamanya waktu pengerjaan, revisi, proses menunggu jadwal cetak dan terbit, sampai mendapatkan royalti yang layak dengan jumlah eksemplar yang tidak banyak. Apakah mimpi itu disebut kandas? Tentu tidak. Setelah mencoba menggeluti industri penerbitan komik, hingga berkarier di ramainya konten komik digital dewasa ini, saya ingin sekedar berbagi pemikiran melalui sebuah catatan berjudul "menerbitkan komik sendiri" ini.

Saya berkawan dengan banyak tipe komikus di Indonesia: yang profesional bekerja sebagai komikus dari penerbit luar, komikus profesional dari penerbit lokal, komikus yang menerbitkan karyanya sendiri secara profesional, komikus indie yang menjual komiknya secara indie, komikus yang sekedar hobi ngomik, juga komikus yang sedang mau mulai belajar tentang komik. Ada beberapa komikus yang mengeluh ketika komiknya berulangkali ditolak penerbit. Alasannya pun beragam; ada yang dianggap terlalu aneh, terlalu sadis, terlalu porno, terlalu SARA, dan terlalu terlalu lainnya. Sebagian komikus ada yang mengalami penolakan itu menyerah dan mengeluhkan penerbit yang menolaknya. Padahal, boleh jadi karyanya ditolak editor memang karena belum memenuhi standar penerbitan dan bisa membahayakan kedua pihak jika diterbitkan. Dan satu catatan lagi, setiap penerbit komik mempunyai batasan editorial yang berbeda-beda.



Komikus yang karyanya berhasil lolos ke sebuah penerbitan biasanya akan menghadapi proses editorial, dimana sebuah karya komik akan mendapat pemangkasan dan penyesuaian sesuai kebutuhan dan pengalaman penerbit. Dalam proses ini, komikus yang sangat-sangat idealis dengan karyanya akan kecewa dengan adanya beberapa penyesuaian itu. Tapi sekali lagi, pemangkasan dan penyesuaian konten komik itu muncul atas pengalaman editor dalam menerbitkan komik. Bagaimanapun, penerbit akan berhati-hati mengeluarkan barang dagangannya. Ada sebagian yang sepakat dengan hasil editorial, namun banyak juga yang menyerah dan memilih jalur indie. Di jalur indie ini, komikus tidak akan dibebani oleh sistem editorial dan keperluan marketing industry suatu penerbit. Komikus Indie bebas menentukan konten, format komik, gaya bahasa, gaya gambar, dan sebagainya. Apakah komik indie bisa dijual tanpa penerbit? Tentu saja bisa. Menjual komik itu caranya beragam. Apakah komik indie akan selalu ditolak penerbit? Tentu saja tidak. Ada beberapa penerbit yang bersedia menerbitkan komik indie loh. Syarat dan ketentuan berlaku, hehe



Keuntungan menerbitkan komik di penerbit komik besar ada banyak. Diantaranya, komikus tidak perlu repot-repot mengurusi proses pencetakan, distribusi, dan (sebagian) promosi, juga soal hitung-hitungan hasil transaksi. Dalam hal ini, keuntungan financial menerbitkan komik via penerbit ditentukan dalam Royalti. Sejauh yang saya ketahui, rata-rata penerbit memberikan royalti sebesar 10% per 3000 eksemplar. Besar rupiah yang diterima tergantung dari laris atau tidaknya komik tersebut di pasaran, juga berdasar harga komiknya juga. Banyak yang bilang juga kalau angka tersebut tidak bisa dipakai untuk sandaran hidup. Tapi banyak komikus yang mengejar hal lain saat komiknya diterbitkan, yaitu kebanggan dan prestasi.




Pagar untuk menerbitkan komik di penerbit yang menganut standar penerbitan Jepang memang tidak mudah. Ada beberapa aturan teknis yang harus dipatuhi. Dan aturan-aturan tersebut terkadang tidak bisa ditempuh dalam waktu cepat dan mudah. Misalnya; komikus harus membuat satu cerita ke dalam kisaran 180 halaman untuk satu buku. Kalau bisa membuatnya dalam waktu singkat, tentu royalti yang diterima bisa membayar biaya selama komik dibuat. Namun, jarang yang berlaku sejalan. Hitungan kasarnya, 180 halaman paling cepat bisa dicapai dalam waktu 6 bulan (dengan asumsi 1 halaman dalam 1 hari), dan itupun harus dengan bantuan asisten (toning, background, lettering). Jika mengandalkan penghasilan dari royalti saja, maka hitungan biayanya tidak cukup masuk, kecuali komiknya sangat-sangat laris dan bisa naik cetak berkali-kali dalam sebulan.



Pupuskah harapan setelah mengetahui fakta ini?
Indonesia itu ajaib. Dalam sebuah kesulitan system, komikusnya menemukan cara-cara jenius untuk bertahan. God bless social media!
Saya mau berbagi pengalaman tentang komik saya yang berjudul Grey & Jingga: The Twilight. Komik ini saya mulai di facebook sekitar Oktober 2012 dengan format komik strip dan bergenre romance. Kala itu, saya menantang diri saya untuk bisa rutin mengunggah komik ini setiap Senin dan Kamis. Proses penayangan komik ini nyaris tidak menemui hambatan. Selama hampir satu setengah tahun, saya rutin menayangkan komik serial Grey & Jingga di facebook tanpa pernah terlewat satu jadwalpun. Ketika memulai, follower saya di Facebook ada sekitar 4.000 orang. Ketika komik Grey & Jingga tamat di bulan Februari 2014, follower saya melonjak menjadi 14.000 orang. Artinya, saya berhasil mengumpulkan pembaca komik saya sebanyak 10.000 orang. Penayangan rutin dan kualitas konten tentu menjadi biang kesuksesannya. Komik Grey & Jingga kemudian diterbitkan oleh Koloni Gramedia dan mencetak rekor sebagai komik dengan penjualan tercepat. (Kalau terlaris seingat saya dipegang oleh Garudayana).



Dalam hal ini, social media merupakan salah satu jalur alternatif bagi para komikus untuk menayangkan komiknya. Keuntungan dengan menayangkan via sosmed (istilah kerennya) adalah gratis alias tanpa biaya, dan kita sebagai komikus bisa langsung mendapatkan respon dari pembaca terhadap karya kita.



Penerbit melihat keberadaan sosmed ini sebagai ajang untuk mencari konten. Jaman dulu, sebelum adanya sosmed, penerbit akan menunggu submisi komik dari komikus. Dan kalaupun sudah ada kesepakatan untuk menerbitkan satu judul, mereka harus berspekulasi terhadap kemungkinan terburuk bahwa komik tersebut akan lesu di pasaran. Kemunculan sosmed dan internet merupakan portal bagi para talent scout dan penerbit untuk melacak satu komikus maupun konten komik hingga mengorbitkannya ke pasaran. Salah satu acuan mereka adalah jumlah follower komikusnya. Ingat, ini hanya salah satu acuan. Penerbit juga harus hati-hati melihat performa dan konten komiknya. Bisa jadi follower banyak, tapi karyanya tidak memenuhi standar penerbitan. Tetap saja komik itu lewat dari mata penerbit. Misalnya, konten komiknya nyinyir, SARA, Super Hentai, dan sebagainya.




Apakah selamanya kalau komikus punya follower selangit lantas karya komiknya diburu penerbit? Belum tentu. Lihat dulu kualitasnya. Tidak ada jaminan follower banyak, lantas komiknya laku di pasar. Juga tidak ada jaminan follower si komikus bisa diitung jari, tapi komiknya nggak laku di pasar. Ingat, sebelum ada sosmed, tidak ada standardisasi berdasarkan follower. Tidak ada jaminan itu. Pasar kita cukup anomali untuk dirumuskan. Apakah lantas komikus dengan jumlah pengikut yang banyak bersedia diterbitkan komiknya? Belum tentu. Banyak komikus yang merasa bisa menjual barang dagangannya sendiri tanpa bantuan penerbit. Memang kesannya swag abis sih, tapi itulah yang namanya berbisnis hehe



Saya akan menyoroti salah satu komik karya teman saya, Faza Meonk: Si Juki. Bagi saya, Si Juki merupakan sebuah fictional character yang di-manage dengan sangat baik melalui social media. Faza menyusupkan kredo Si Juki ke berbagai jaringan sosmed untuk mewartakan kontennya, dan berhasil menyasar market dengan sangat-sangat jenius. Alhasil, Si Juki bisa dikenal luas sehingga membawa kencrengan rupiah ke kantong Faza. Pertanyaannya, kalau saja konten Si Juki tidak menarik dan tidak disukai market, akankah bisa seterkenal ini (meskipun sudah digembar-gemborkan ke berbagai media social)? Jawabannya: Belum tentu. Kualitas konten dan jaringan penyebaran via social media merupakan satu konfigurasi yang tidak terpisahkan. Dengan menilik jumlah follower dan konten yang diusung, Si Juki akhirnya diterbitkan oleh Bukune Publisher dan laris manis di pasar.



Catatan pentingnya adalah, jumlah follower seorang komikus hanya dipakai sebagai acuan dasar bagi penerbit untuk mematikulasi serapan produk komik di pasaran. Contohnya begini; jika follower FB saya saat ini mencapai 23.000 orang, penerbit akan berasumsi bisa menjual setidaknya 3.000 eksemplar komik saya dipasaran. Apakah semakin besar jumlah follower, semakin kecil pula error dari matikulasi tersebut? Belum tentu. Boleh jadi, follower saya jadi banyak gara-gara saya suka bikin status tentang kegalauan asmara yang tidak ada hubungannya dengan komik yang sedang saya buat. Makanya, tingkat kelarisan komik Grey & Jingga berbeda dengan tingkat kelarisan komik Pusaka Dewa di web Ragasukma. Si Juki adalah contoh yang paling tepat dalam mengkonfigurasikan konten dan jumlah follower. Dan formulasi manajemen social media Si Juki tidak bisa asal tempel dicontek oleh saya untuk memasarkan komik Pusaka Dewa. Alasannya jelas: pasarnya berbeda. Maka, salah kaprah kalau beranggapan bahwa penerbit hanya mau menerbitkan komik dari komikus yang followernya banyak. Kontennya harus dilihat dulu. Penerbit yang mana dulu? Penerbit itu ada banyak, dan masing-masing punya cara sendiri untuk memilih komik yang hendak diluncurkan.

Bagi saya pribadi, jika ditinjau dari sisi marketing, tidak ada komik bagus atau jelek. Yang ada adalah komik berkualitas yang tepat sasaran atau tidak. Bagus kontennya tapi tidak bagus menyasarkannya, bagi saya sama saja gagal. Saya berpendapat bahwa komik yang sukses adalah komik yang isinya sampai dengan baik kepada pembaca. Jangan sampai kita terlalu percaya diri memasarkan komik tentang Tuntunan Sholat kepada para preman gemar judi. Salah-salah komik kita dibakar gara-gara terlalu menggurui. Atau terlalu percaya diri membuat komik untuk anak-anak tanpa memperhitungkan bahwa nanti ibunya yang akan membelikan untuk anaknya. Apalagi terlalu percaya diri melabeli komik sendiri sebagai komik berkualitas tapi realita bicara sebaliknya. Formula ini harus dipahami baik-baik.

Indonesia dipenuhi oleh komikus-komikus kreatif yang tahan banting. Saya bersyukur banyak nama-nama baru yang muncul dan meroket dengan cepat atas dasar kualitas komiknya yang rupawan. Mohon untuk tidak menerjemahkan kata “kualitas” dengan “gambar yang keren kayak gambarnya Takehiko Inoue”. Bukan. Berkualitas artinya ada sinkronisasi mutu antara konten dan penyajiannya. Nama-nama seperti  Re:ON, Wook Wook, Si Juki, Kosmik, dan yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu merupakan produk yang lahir dari sebuah evolusi marketing dalam industri komik lokal. Yang lebih gokil lagi, banyak komikus-komikus muda yang berhasil menata bisnis komiknya sendiri secara independen, tanpa perlu terlalu bergantung pada penerbit, tapi bisa semakin sukses komiknya. Ini adalah salah satu buah keberhasilan. Di lain waktu, saya akan menuliskan khusus soal manajemen bisnis untuk komik terbitan sendiri yang bahannya saya ambil dari berbagai sumber.



Akhir kata, sosmed merupakan salah satu jalan untuk mempopulerkan komik dan komikusnya. Selanjutnya, alam semesta yang akan menentukan apakah komik itu bisa laris atau tidak. Dengan adanya jaringan social media ini, sangat beruntung bagi mereka yang bisa mengoptimalkannya di jalan kebaikan berkarya. Sibuk-sibuklah memperbaiki kualitas komik kita.
XGRA AXY!!

STORYTELLING

STORYTELLING



 Apa itu storytelling?
Sederhananya, storytelling adalah teknik atau kemampuan untuk menceritakan sebuah kisah, pengaturan adegan, event, dan juga dialog. Kalau di film, para film maker bersenjatakan kamera; di komik, para komikus bersenjatakan gambar dan angle cerita; di cerpen atau novel, para penulis bersenjatakan pena, diksi, dan permainan kata serta deskripsi.

Kenapa storytelling penting?
Sering liat kan ada cerita yang idenya sekilas bagus, spektakuler, pokoknya ajib dah, tapi setelah diikutin ternyata kita malah ngga ngerti isi ceritanya. Atau, ada novel/cerpen yang sebenarnya punya ide cerita yang keren, tapi menggambarkannya asal-asalan karena nggak tahu soal pacing, panelling, dan permainan angle (ini sebenarnya istilah buat komik, Neko masih belum nemu pengganti yang pas buat nulis cerita. Ada yang bisa bantu?). Storytelling adalah langkah untuk meramu cerita supaya menarik untuk diceritakan, sehingga ketika proses menggambarkannya ke dalam lembar kertas dapat lebih proporsional.

Berikut ini ada beberapa tips buat bisa jago storytelling.

    Kalau kita punya cerita, pastikan kita paham betul alur ceritanya dengan baik. Sederhananya, kita tahu seperti apa awalnya, bagaimana pengembangan alurnya, dan terakhir kita tahu cara mengakhirinya.
     
    Sesudah kita pahami isi cerita, coba putar-putar terus ceritanya di kepala, sampai kita tahu, bagian mana yang seharusnya paling banyak kita ceritakan, bagian mana yang seharusnya TIDAK PERLU kita sampaikan, dll. (Asas manfaat ternyata berlaku juga dalam membuat tulisan ehehehe)
    
    Ketika kita memahami porsi cerita, kita jadi bisa membayangkan adegan-adegan di dalam cerita itu, jadi terbayang seperti apa penempatan visualisasinya di dalam bab-bab novel/cerpen. Misalnya, ada adegan ketika tokoh ikhwan yang berjanji akan menikahi seorang akhwat di tengah rinai gerimis, setelah ikut pengajian bersama di malam Sabtu*

    *catatan: huahahahah! Mas Sweta Kartika aslinya makai adegan contoh cowok yang nembak cewek. Tapi biar lebih "Islami", Neko ganti adegannya jadi "semi syari'ah" XD
    Para komikus atau film maker akan terbayang untuk menggambarkan adegan dengan menempatkan pada panel panjang dengan angle 'bird view' (sudut pandang atas) dan long shot (pengambilan gambar jarak jauh), menampakkan kedua sejoli itu tengah berhadapan di bawah temaram lampu jalan (agar lebih Islami, Neko tambahkan adegan sang Murrobbi yang datang sambil berkecak pinggang! Huahahh...lha? Kok jadinya malah komedi? XD)

    Itu kalau pakai kamera dan gambar. Sebagai penulis, kita akan mendeskripsikan rintik hujan yang turun terdengar melodis, nuansa temaram yang romantis, degupan si ikhwan saat mengucapkan janji, suaranya halus dan berat terdengar malu-malu tapi berusaha terlihat tegar, wajah si akhwat yang bersemu, pandangannya yang ditundukkan, secercah harapan indah akan masa depan muncul, tergantung permainan sudut pandang mungkin penulis akan menambahkan isi kepala atau hati dua insan ini saat adegan terjadi. Trus kalau mau jadi komedi ya...ditambahkan adegan sang Murrobbi yang datang sambil berkecak pinggang itu huahahah... (udah cukup syariah ga ini? Pusing ngadaptasinya euy. Tapi ini contoh penggambaran adegan paling mudah dan mengena di hati kalian kan???  Iya kaaan? Ngaku deh! XD)

    Lebih singkatnya Neko sering menyebutkan hal ini sebagai cinematic visual writing. Menggambar film di atas kertas. Menulis dengan membayangkan adegan seolah terjadi dalam film atau komik.
     
    Terakhir, barulah kita menggambarkannya ke dalam lembar kertas.Di sini Neko lebih memilih istilah asli yang digunakan oleh Sweta Kartika, yaitu "menggambar" daripada "menulis". Ya, karena sebagai penulis kita nggak sekedar menulis, tapi "menggambar" adegan dengan aksara dan kata.

Nggak cuma komikus dan film maker, penulis juga orang yang paling jago untuk berpikir secara visual. Malah kadang kita harus berpikir secara audio dan kinestetik juga. Karena senjata kita cuma aksara dan kata, beda dengan gambar dan video yang bisa menampilkan adegan secara nyata di depan mata. Syukur kalau ada ilustrasi yang memudahkan pembaca memahami isi cerita. Kalau nggak ada berarti visualisasi cerita kita harus lebih kuat lagi agar bisa memancing imajinasi pembaca mengikuti cerita kita.

Sumber | http://www.flpmalang.com

Tutorial ngomik oleh :Chris Lie | menulis script komik

Tutorial ngomik oleh :Chris Lie | menulis script komik
Format penulisan script komik sebenarnya mirip dengan skenario filem, tetapi karena komik terdiri dari panel-panel, maka script komik haruslah dibagi dan dijelaskan tiap panelnya oleh sang penulis.

Apabila penulis adalah sekaligus sebagai penggambar komiknya, maka tahap ini mungkin bisa dihilangkan dan langsung masuk ke tahap berikutnya. Tetapi di industri komik Amerika, posisi penulis cerita kebanyakan berbeda dengan penggambarnya yang tinggal di benua lain. Oleh karena itu script komik haruslah sedetil mungkin menjelaskan apa yang harus digambarkan oleh ilustratornya. Biasanya disertakan banyak sekali link gambar untuk memudahkan menjelaskan apa yang dimaksud oleh penulis.

Jenis script komik ada 2 macam, yaitu Marvel Style (Plot) Script dan Full Script.

Quote:Marvel Style (Plot) Script
Adalah jenis script yang sangatlah global, boleh dibilang berupa sinopsis/plot saja. Disini peran illustrator sangatlah besar, boleh dibilang ini sutradara komiknya adalah si penggambar.

Jenis script ini dipakai Marvel pada saat awal-awal berdirinya, dimana jumlah editorial Marvel hanya sedikit dan merangkap sebagai penulis cerita, contohnya Stan Lee. Karena banyaknya komik yang harus terbit dalam waktu yang singkat, maka beliau hanya sempat menulis synopsis cerita, kemudian penggambarnya seperti Steve Ditko (Spider-man) dan Jack Kirby (Fantastic Four) yang akan mendesain karakter, setting, action, dan lain-lain.

Setelah komiknya selesai digambar, barulah Stan Lee menulis dialog yang pas untuk adegan-adegan yang sudah digambar tersebut. Jadi sampai sekarang masih diperdebatkan seberapa besar peran Stan Lee dalam penciptaan karakter-karakter Marvel, karena pada saat itu peran illustrator juga sama besarnya.


Berikut adalah contoh Plot Script (karya alm. Dwayne Mc Duffie) yang sebenarnya sudah cukup detil dibanding Plot Script pada masa Marvel tahun 60-an. Pada jaman itu, script komik 22 halaman bisa hanya berupa 1 halaman text.


Seiring dengan semakin baiknya proses produksi komik, maka penulisan script jenis ini sudah mulai ditinggalkan dan beralih menjadi Full Script.

Quote:Full Script
Adalah jenis script komik yang paling umum pada saat ini, dimana penulis dan penggambar bisa saja tidak pernah saling berkomunikasi, tetapi penggambar bisa menghasilkan komik sesuai dengan apa yang ada di bayangan si penulis.

Tentu saja kuncinya adalah penulisan secara detil dan jelas di dalam scriptnya. Jenis Script inilah yang akan kita bahas sekarang ini.


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan script komik, antara lain:
1. Jangan membuat jumlah panel yang terlalu banyak dalam 1 halaman komik. Perlu diperhatikan berapakah ukuran cetak komik yang akan dibuat, apabila ukuran cetaknya semakin kecil, maka jumlah panel diusahakan semakin sedikit. Hal ini akan berpengaruh terhadap ruang untuk penulisan text/dialog dan juga ukuran hurufnya, agar tetap mudah dibaca.

Jumlah panel yang pas untuk komik ukuran A4 adalah 5-6 panel per halaman.

2. Jelaskan sedetil mungkin adegan yang akan digambar, baik dari sudut pandang, kedekatan kamera, gesture tokohnya, ekspresi muka, lingkungan atau orang di sekitarnya, sampai hal-hal kecil seperti merk dan warna benda yang memang penting di dalam cerita tersebut.

3. Jangan menggunakan dialog sebagai sarana penyampaian informasi yang berlebihan juga. Dalam dunia penulisan naskah dikenal ungkapan: “show, don’t tell”, di mana penyampaian informasi sebaiknya ditunjukkan dengan perbuatan sang karakter, bukannya dipaparkan dalam dialog.

Misalnya: Andi yang cuek dan jorok ditunjukkan dengan adegan mengupil dan mengelap hidungnya dengan lengan baju, saat berbicara dengan gurunya.
Bukan melalui narasi “Andi adalah seorang yang cuek dan jorok”.


4. Dialog tentu saja tetap penting. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam menulis dialog adalah:
01. Pantaskah karakter ini mengucapkannya?
Contoh: seorang penjahat berbicara dengan gaya bahasa formal saat melakukan tindak kriminal. Aneh, kan?

02. Apakah mereka perlu mengucapkannya dalam adegan tersebut?
Contoh: dalam adegan tembak-menembak yang genting semua karakter malah berdiskusi tentang asal-usul senjata yang digunakan.

03. Apakah mereka akan mengucapkannya kepada karakter yang diajak berbicara?
Contoh: seseorang yang berbicara pada atasannya tentu gaya bahasanya berbeda dibanding dengan kalau berbicara dengan rekan setingkatnya.


Mungkin lebih mudah kalau diberikan contoh sederhana untuk memulai menulis script. Contoh script ini saya ambil dari script ‘Kisah Petualangan Bagas – Tentara Pelajar’ edisi 1 yang ditulis Andik Prayogo.

Quote:Hal 3:
PROLOG
Text: Madiun, 27 Juni1934.
Exterior: Hollandsch-Inlandsche School
Pagi hari

Panel 1:
Panoramic shot: Sebuah halaman sekolah SD jaman Belanda (ada papan nama dari kayu bertuliskan: Hollandsch-Inlandsche School), seorang ‘bruder’ Belanda memukul lonceng berukuran sebesar bola basket, dengan pemukul tongkat kayu.
Sf/x: teng...teng...teng...

Panel 2:
Puluhan anak-anak (beberapa memakai blankon dan sarung) berusia 6 – 10 tahun langsung berlarian keluar kelas. Ibu Bagas menunggu di depan halaman. Bagas berlari menghampiri ibunya.
Bagas: Ibu!
Sf/x: Hore!


Panel 3:
Ibu dan Bagas bergandengan tangan menjauhi sekolah.
Ibu: Yuk kita susul bapak di sungai.
Bagas: Wah! Bapak memancing lagi? Asyik!


Panel 4:
Bagas (6 tahun) melambai kepada ayahnya, ia memeluk ‘sabak’/papan tulis kecil (lihat reference). Di belakangnya ibunya berjalan menyusul.
Bagas: Bapak!

Panel 5:
Ayahnya menengok dan melambai. Bagas berlari menghampiri
Ayah: Bagaimana belajar berhitungnya tadi?
Bagas: Asyik pak, Bagas sudah bisa menjumlah ratusan. Dapat banyak ikannya?


Panel 6:
Close up : Ayah memperlihatkan beberapa ekor ikan mujaer/nila hasil tangkapannya.
Voice over Bagas: Wah! Asyik! Kita makan enak siang ini.


Hal 4:
Panel 1
Ibu memanggang ikan di api unggun, mata Bagas membelalak melihatnya, ia tersenyum sambil mengelap bibir dengan lidahnya. Di belakang, ayah melepas topi capingnya dan menyangkutkannya di saung.
Bagas: Nyam! Pasti enak.

Panel 2: close up
Bagas makan ikan dan potongan singkong rebus beralas daun pisang.
Bagas: Terima kasih ibu, enak sekali ikan bakarnya.

Panel 3:
View panoramic: Di kejauhan terlihat burung-burung beterbangan dari dedaunan hutan.
Sf/x: Ciiit...ciiit..ciiit...
Dari dalam saung, Ayah menoleh ke arah datangnya suara.

Panel 4:
Terlihat tiga orang pria yang bukan berasal dari kampung mereka, berlari terengah-engah menghampiri saung. Yang terdepan berlari sambil menengok ke belakang, salah satu yang di belakang nyaris terjungkal.
Sf/x: Drap..drap..drap...

Panel 5:
Ketiga orang berlari melewati saung. Yang paling belakang berteriak pada ayah Bagas.
Pria 3: Lari mas! Cepat lari, ada tentara Belanda!


Dari script diatas, pencilernya yaitu Afif Numbo langsung menterjemahkannya dalam bentuk gambar seperti ini:



Setelah melalui proses editing dan review selama beberapa kali, terdapat perubahan gambar, warna, dan text, dan hasil akhirnya adalah sebagai berikut:



Quote:Hal 13:
Exterior: Desa
Pagi hari
Panel 1:
Narasi: Tapi ternyata, kemerdekaan masih jauh dari mimpi.
Di sebuah desa, terlihat truk-truk tentara berbendera Jepang. Mereka sedang merampas hasil bumi dan ternak penduduk. Kostum penduduk mengenakan karung goni sebagai celana. Tubuh mereka kurus kering. Para tentara Jepang mengangkut karung-karung beras, beberapa diantaranya menodongkan senapan ke penduduk yang berbaris pasrah tidak berani melawan.
Narasi: Keadaan menjadi jauh lebih buruk dari masa penjajahan Belanda.

Panel 2:
Seorang kakek memohon pada tentara agar tidak mengambil kambingnya.
Kakek: Jangan tuan, itu milik saya satu-satunya....

Panel 3:
Tentara Jepang menendang kakek tua itu.
Sf/x: Duaak!

Panel 4:
Tentara Jepang mengangkut karung beras dari rumah penduduk dan memasukkannya ke truk-truk mereka.
Kepala desa memohon mohon., ia bersimpuh di depan komandan.
Kepada desa: Tuan, kalau semua beras dibawa, kami makan apa? Kasihani kami tuan, kami pasti mati kelaparan...

Panel 5:
View dari bawah, fokus ke ekspresi bengis komandan Jepang: Komandan mengeluarkan pistolnya dan membidik

Panel 6:
Gambar ledakan dan sf/x: Door!
Komandan: 今、あなたは飢えで死ぬことを恐れている必要はありま せん*
*Nah! Sekarang kamu tidak perlu takut kelaparan.


Hal 14
Panel 1
Beberapa tentara Jepang menarik wanita-wanita muda dari dalam gubuk-gubuk penduduk.
Sf/x: Aaaah.... Jangan tuan!

Panel 2:
Seorang tentara Jepang1 menarik gadis berusia 16 tahunan (Sri). Sri berteriak.
Tentara Jepang 1:彼女はとてもきれい...*
*dia cantik sekali...
Sri: Aaaah! Lepaskan!


Panel 3:
Tentara Jepang1 dan 2 saling berebut memegang tangan Sri dan tertawa-tawa.Sri berusaha melepas tangannya sambil berteriak-teriak.
Tentara Jepang 2: 彼女は私のものです*
*dia untukku
Sri: Lepaskan!


Panel 4:
Sri menggigit tangan tentara jepang 2

Panel 5:
Tentara Jepang berteriak, sambil melepas mengibaskan tangannya.
Tentara Jepang 2: Aaargh!

Panel 6:
Sri menatap ke tentara Jepang 2, tatapan matanya menantang.



Halaman pencil/lineartnya:



Berikut adalah versi halaman jadinya:



Nah, setelah kaskuser mencoba menulis 2 halaman script untuk 2 halaman komik nanti, berikutnya akan dibahas lebih jauh mengenai bagaimana menterjemahkan panel-panel dalam script tersebut ke dalam halaman.

Hal terpenting dalam tahap lay-out panel di halaman komik ini adalah flow storytelling-nya, intinya harus jelas (tidak membingungkan) sehingga enak dibaca. Tahap ini disebut thumbnail/storyboard/name.